Back to Top

Zarry Hendrik: Drama Lanjutan

Teruntuk Rahne, pencinta kata yang memberi nafas bagi kata-kataku,

Setuju, kita menggelikan sekaligus mengharukan. Aku tidak menyangka bakal sampai seperti ini. Apa aku yang hebat, apa kamu yang hebat, atau orang-orang hebat yang mengatakan kita hebat, aku tak tahu pasti. Tetapi ya, mengenalmu mengeratkanku pada kata-kata yang aku rangkai sendiri, membayangkanmu membuatku menetaskan berjuta inspirasi. Pertama-tama, layakkanlah terima kasihku untuk dapat mendarat di gendang telingamu yang baik.

Sekarang sadarilah bahwa kau telah menggali liang makna di dalam kata-kataku, sehingga setiap kalimat yang aku pajang bisa amat menenggelamkan, dan di dalamnya kamu dapat menyelam. Aku tidak tahu menahu seperti apa sastra sebenarnya, tetapi mengenalmu bagai perkenalanku pada keindahan tulis-menulis. Orang menyebutnya aksara, aku menyebutnya angkasa. Tinggi dari pijakan kaki manusia, seperti malaikat-malaikat Tuhan dapat menari-nari di atas kertas kita. Begitulah aku amat bangga memilikimu sebagai sahabat penaku, pencinta kata yang tak terwakilkan, terlebih tergantikan oleh jemari siapapun.

Rahne, siapapun yang bersanding denganku sekarang, kuharap ia mengerti bahwa ia tidak bisa mengayunkan jarinya untuk meletuskan gumpalan imaji di dalam kepalaku, bahkan di semesta para pembaca. Namun ini aku bersyukur bahwa sedikit banyak, kita amat memikat, kata-kata kita cukup mengikat, kuat, melekat di dinding-dinding surga kecil mereka. Maka jangan sampai ada ketamatan di antara dua pencinta kata, sebab seperti kita dulu pernah sepakat; “aku adalah kata, kamu adalah kata, kita adalah kata-kata.”

Terpujilah Twitter, Artasya, Kafe Kecil dan takdir usil yang mempertemukan kita.

Jabat erat jemari mungilmu, 

Zarry Hendrik

Posted 4 months ago / 55 notes